Video porno jangan sampai membuat kecanduan. Sebab jika kecanduan yang porno-porno, hubungan Anda dan pasangan bisa berantakan.
Penelitian menunjukkan pornografi dapat membentuk sikap dan mendorong perilaku merugikan bagi diri sendiri dan keluarga. Misalnya saja perselingkuhan dan perceraian. Selain itu, pornografi juga dapat memicu perilaku prostitusi dan berbahaya lainnya yang tidak diharapkan.
Beberapa orang percaya ketika seseorang tidak terangsang dengan pasangannya, maka tak apa jika sedikit berfantasi seks atau menonton film porno selagi melakukan hubungan seks. Mungkin hal itu sedikit membantu, namun hal tersebut berdampak tidak baik.
Coba bayangkan bagaimana perasaan pasangan saat tahu Anda membayangkan bintang video porno saat bercinta dengannya. Hal ini juga menunjukkan Anda tidak dewasa secara seksual.
Mengapa beberapa orang suka mengakses pornografi? Ini karena beberapa orang berpikir mereka tidak mendapatkan 'feel' ketika bercinta meski sudah diberikan banyak stimulasi. Akibat dari pornografi ini, hampir setiap hari konselor seks menemukan banyak dampaknya.
Pornografi merupakan kelompok khusus dari 'kecanduan seks' yang berbeda dengan pergaulan bebas, masturbasi kompulsif, seks anonim, pedofilia, dan lainnya. Porno sendiri bisa dideskripsikan sebagai hubungan obsesif dengan fantasi. Bagi banyak orang, hal porno sering masuk dalam perilaku seksual adiktif yang mengikat.
Hal-hal porno juga dapat menghancurkan hubungan yang sebelumnya sudah berjalan baik. Sebab kecanduan pornografi bisa membuat seseorang menghabiskan waktu dan uang demi memanjakan matanya dengan yang porno-porno.
Dr. Victor Cline, peneliti dan profesor psikologi, menemukan 4 tahapan perkembangan orang yang mengkonsumsi pornografi:
1. Kecanduan: Efek afrodisiak kuat, diikuti oleh kelakuan seksual, kebanyakan melalui masturbasi.
2. Eskalasi: Seiring waktu, pecandu membutuhkan bahan yang lebih eksplisit dan menyimpang untuk memenuhi 'kebutuhannya'.
3. Desensitisasi: Apa yang awalnya dianggap kotor, mengejutkan dan mengganggu, dalam beberapa waktu menjadi hal yang biasa dan dapat diterima.
4. Berperilaku porno: Meningkatnya kecenderungan untuk menunjukkan perilaku pornografi.
Perilaku ini bisa juga disebut 'perilaku kompulsif'. Perilaku yang berakar sejak kecil ini dapat terjadi pada pria atau pun wanita. Diyakini bahwa orang yang mengalami hal ini berasal dari keluarga yang kurang harmonis sehingga fungsi keluarga tidak berjalan semestinya.
Terdapat bukti pula bahwa orang-orang yang kecanduan pornografi dipicu oleh pelecehan fisik atau seksual pada masa kecilnya. Bahkan kerappula kasus pemerkosaan bermula karena paparan pornografi pelakunya.
Di Amerika, tepatnya di Phoenix di mana terdapat bisnis 'prostitusi' memiliki angka penyimpangan seksual 506 persen lebih besar daripada daerah lain yang tidak memiliki bisnis ini. Dr Mary Anne Layden, pemimpin bidang pendidikan di University of Pennsylvania menyatakan dalam 13 tahun dia telah membantu penyembuhan korban kekerasan seksual dan pelakunya.
"Saya tidak mendapatkan satu kasus pun yang tidak melibatkan pornografi," ujarnya.
Nah, jika Anda kehilangan gairah pada pasangan, cobalah melihat kembali hubungan Anda berdua. Cari tahulah mengapa hal itu terjadi. Jika perlu, gunakanlah jasa konselor.
Hindarilah untuk saling menyalahkan atau malah melampiaskan pada pornografi. Saat suatu pasangan memutuskan berumah tangga, bukankah hubungan yang dijalin lebih dari sekadar seks?
Penelitian menunjukkan pornografi dapat membentuk sikap dan mendorong perilaku merugikan bagi diri sendiri dan keluarga. Misalnya saja perselingkuhan dan perceraian. Selain itu, pornografi juga dapat memicu perilaku prostitusi dan berbahaya lainnya yang tidak diharapkan.
Beberapa orang percaya ketika seseorang tidak terangsang dengan pasangannya, maka tak apa jika sedikit berfantasi seks atau menonton film porno selagi melakukan hubungan seks. Mungkin hal itu sedikit membantu, namun hal tersebut berdampak tidak baik.
Coba bayangkan bagaimana perasaan pasangan saat tahu Anda membayangkan bintang video porno saat bercinta dengannya. Hal ini juga menunjukkan Anda tidak dewasa secara seksual.
Mengapa beberapa orang suka mengakses pornografi? Ini karena beberapa orang berpikir mereka tidak mendapatkan 'feel' ketika bercinta meski sudah diberikan banyak stimulasi. Akibat dari pornografi ini, hampir setiap hari konselor seks menemukan banyak dampaknya.
Pornografi merupakan kelompok khusus dari 'kecanduan seks' yang berbeda dengan pergaulan bebas, masturbasi kompulsif, seks anonim, pedofilia, dan lainnya. Porno sendiri bisa dideskripsikan sebagai hubungan obsesif dengan fantasi. Bagi banyak orang, hal porno sering masuk dalam perilaku seksual adiktif yang mengikat.
Hal-hal porno juga dapat menghancurkan hubungan yang sebelumnya sudah berjalan baik. Sebab kecanduan pornografi bisa membuat seseorang menghabiskan waktu dan uang demi memanjakan matanya dengan yang porno-porno.
Dr. Victor Cline, peneliti dan profesor psikologi, menemukan 4 tahapan perkembangan orang yang mengkonsumsi pornografi:
1. Kecanduan: Efek afrodisiak kuat, diikuti oleh kelakuan seksual, kebanyakan melalui masturbasi.
2. Eskalasi: Seiring waktu, pecandu membutuhkan bahan yang lebih eksplisit dan menyimpang untuk memenuhi 'kebutuhannya'.
3. Desensitisasi: Apa yang awalnya dianggap kotor, mengejutkan dan mengganggu, dalam beberapa waktu menjadi hal yang biasa dan dapat diterima.
4. Berperilaku porno: Meningkatnya kecenderungan untuk menunjukkan perilaku pornografi.
Perilaku ini bisa juga disebut 'perilaku kompulsif'. Perilaku yang berakar sejak kecil ini dapat terjadi pada pria atau pun wanita. Diyakini bahwa orang yang mengalami hal ini berasal dari keluarga yang kurang harmonis sehingga fungsi keluarga tidak berjalan semestinya.
Terdapat bukti pula bahwa orang-orang yang kecanduan pornografi dipicu oleh pelecehan fisik atau seksual pada masa kecilnya. Bahkan kerappula kasus pemerkosaan bermula karena paparan pornografi pelakunya.
Di Amerika, tepatnya di Phoenix di mana terdapat bisnis 'prostitusi' memiliki angka penyimpangan seksual 506 persen lebih besar daripada daerah lain yang tidak memiliki bisnis ini. Dr Mary Anne Layden, pemimpin bidang pendidikan di University of Pennsylvania menyatakan dalam 13 tahun dia telah membantu penyembuhan korban kekerasan seksual dan pelakunya.
"Saya tidak mendapatkan satu kasus pun yang tidak melibatkan pornografi," ujarnya.
Nah, jika Anda kehilangan gairah pada pasangan, cobalah melihat kembali hubungan Anda berdua. Cari tahulah mengapa hal itu terjadi. Jika perlu, gunakanlah jasa konselor.
Hindarilah untuk saling menyalahkan atau malah melampiaskan pada pornografi. Saat suatu pasangan memutuskan berumah tangga, bukankah hubungan yang dijalin lebih dari sekadar seks?























